Judul Buku : PERSEPEKTIF PENDIDIKAN LUAR BIASA DAN IMPLIKASINYA BAGI PENYIAPAN TENAGA KEPENDIDIKAN”
Nama Pengarang : Dr. Wahyu sri Ambar Arum, MA
Penerbit :Departemen Pendidikan Nasional
Cetakan : pertama, 2206
Tebal Buku : 232
BAB I
MENGENAL KERAGAMAN SISWA
Latar Belakang
Di Indonesia dan di berbagai negara di dunia, pendidikan luar biasa dipandang sangat penting dalam memenuhi hak pendidikan bagi semua yang juga dinyatakan dalam UUD 1945 dan UU No. 20/2003 tentang Sisdiknas serta berbagai peraturan pemerintah lainnya. Dalam UU Sisdiknas No.20 tahun 2003, tidak ada lagi istilah PLB, sebagia penggantinya digunakan “pendidikan khusus” dan untuk pertama kalinya digunakan istilah “inklusif” sebagai salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan khusus.
Pada saat ini pendidikan luar biasa masih segregatif, terdiri dari 5 jenis sekolah luar biasa, mencakup jenjang pendidikan prasekolah (TKLB), sekolah dasar (SDLB dan SMPLB), dan pendidikan menengah (SMLB). Kelima jenis sekolah luar biasa tersebut adalah SLB A untuk tunanetra, SLB B untuk tunarungu, SLB C untuk tunagrahita, SLB D untuk tunadaksa, dan SLB E untuk tunalaras.
Pembelajaran yang didasarkan atas kurikulum yang seragam dapat meningkatkan efisiensi, tetapi menurunkan efektifitas pencapaian tujuan pembelajaran. Pembelajaran secara itu dikatakan efisien karena dalam waktu yang sama dapat dijarkan sejumlah materi pelajaran untuk sejumlah siswa dalam kelas. Pembelajaran semacam itu tidak efektif karena siswa yang lambat akan mengalami kesulitan untuk mencapai target pencapaian tujuan pembelajaran dan siswa yang cepat akan akan merasa terhambat dan bosan terhadap kegiatan pembelajaran. Pembelajaran dapat efektif dan efesien jika guru memahami adanya keragaman siswa dan melaksanakan kegiatan pembelajaran tidak hanya berdasarkan karakteristik siswa yang bersifat umum, tetapi juga memperhatikan siswa yang memiliki kebutuhan khusus yang ada dalam kelas.
Pandangan Baru tentang Siswa Luar Biasa
Pada saat ini manusia dipandang sebagai makhluk bhineka (individual differnces), kecacatan atau keunggulan adalah suatu bentuk kebhinekaan atau keragaman manusia. Dengan pandangan semacam itu, maka pembedaan siswa kedalam kelompok normal dan berkelainan menjadi tidak relevan lagi. Lebih-lebih jika diperhatikan adnya individu-individu yang cacat yang mampu meraih prestasi tingkat dunia, pembedaan antara cacat dan normal nampak semakin tidak relevan lagi.
Siswa yang Membutukan PLB
Layanan PLB tidak harus di SLB tetapi dapat dilkukan di sekolah reguler, di dalam kelurga, atau di rumah sakit. Berikut adalah berbagai jenis siswa yang membutuhkan layanan PLB.
Siswa Kesulitan Belajar
Definisi Kesulitan Belajar
Kesulitan belajar adalah satu gangguan atau lebih dari proses psikologis yang disebabkan adanya suatu disfungsi suatu neurologis sehingga menyebabkan siswa denagn keterbatasaan keterampilan kognitif dan umumnya dinampakkan pada kekuranagn dalam bidang akademik atau dalam keterampilan-keterampilan yang bersifat lebih umum, seperti mendengarkan, berbicara, atau berpikir, dan anak berkesulitan belajar tidak dapat disamakan denagn tunagrahita, gangguan emosional, gangguan pendengaran, gangguan penlihatan atau kemiskinan budaya atau sosial.
Ciri-ciri Kesulitan Belajar
Dugaan adanya gangguan funsi otak yang rusak, meskipun sel otak yang rusak atau mati tidak dapat diperbaiki, fungsi sel otak lain dapat ditingkatkan kesulitannya sehingga dapat mengkompensasikan fungsi sel otak yang mati atau rusak tersebut. Ciri lain dari kesulitan belajar adalah memiliki inteligensi normal dan bahkan superior tetapi memperoleh prestasi belajar jauh lebih rendah daripada kapasitas inteligensinya. Ia mungkian hanya sulit belajar dalam satu aatu bidang tertentu, tetapi mungkin unggul dalam bidang-bidang lain.
Klasifikasi Kesulitan belajar
Kesulitan belajar yang berhubungan dengan perkembangan, terdiri dari empat macam, yaitu kesulitan dalam berbahasa, kesulitan dalam penyesuaian perilaku sosial dan emosional, gangguan perseptual, dan gangguan kognitif.
Kesulitan belajar akademik, menunjukpada adanya kegagalanpencapaian prestasi akademik yang sesuai denagn kapasitas yang diharapkan. Kegagalan tersebut meliputi, keterampilan dalam membaca (dyslexia), keterampilan dalam menulis (dyisgraphia), dan keterampilan dalam mata pelajaran matematika atau berhitung (dyscalculia).
Penyebab Kesulitan Belajar
Menurut Hallan et al, penyebab kesulitan belajar, antara lain :
Faktor genetic
Luka pada otak (brain injury) yang disebabkan oleh trauma fisik atau kekurangan oksigen sebelum, pada saat, atau sesudah kelahiran.
Biokomia yang diberikan kepada anak misalnya zat pewarna.
Pencemaran lingkungan, misalnya pencemaran timah hitam, dan pengaruh-pengaruh psikologis dan sosial, misalnya perbedaan latarbelakang budaya, pembelajaran yang tidak tepat, dan kemiskinan orangtua.
Siswa dengan Keterbatasan Keterampilan Kognitif
Pembelajaran di sekolah sangat menuntut keterampilan kognitif. Keterampilan kognitif dapat diketahui dari hasil tes IQ. Siswa yang memperole skor 70-89 digolongkan kedalam kelompok siswa lambat belajar (slow learner). Siswa yang memperoleh skor IQ kurang dari 70 digolongkan kedalam kelompok siswa tunagrahita (mentally retarted atau intelectual disabilities). Dalam sistem pendidikan yang segregatif siswa tunagrahita dimasukkan ke SLB.
Siswa dengan Keterampilan Kognitif Tinggi (Berbakat Intelektual)
Siswa yang memiliki keterampilan kognitif tinggi sering disebut siswa berbakat intelektual. Siswa jenis ini memiliki kecepatan akademik yang tinggi sehingga memerlukan program pembelajaran khusus agar potensi intelektualnya berkembang optimal.
Pengertian Anak Berbakat
Anak berbakat ialah anak yang mencapai prestasi tinggi karena memiliki kemampuan-kemampuan unggul. Anak-anak tersebut memerlukan program pendidikan yang berdiferensasi atau pelayanan di luar jangkauan program sekolah reguler, agar dapat merealisasikan sumbangan mereka tehadap masyarakat maupun terhadap diri sendiri.
Karakteristik Individu Berbakat dalam Bidang Akademik
Bloom dan peneliti-peneliti lain, Kitano dan Kirby (1983), mendefinisikan karakteristik individu-individu berbakat dalam bidang akademik khusus, sebagi berikut:
Memiliki perhatian yang lama terhadap suatu bidang akdemik khusus
Memiliki pemahaman yang sangat maju tentang konsep, metode, dan terminology dari bidang akdemik khusus
Mampu mengaplikasikan berbagia konsep dari berbagi bidang akademik khusus
Memiliki sifat kompetitif yang tinggi dalam suatu bidang akademik khusus.
Siswa dengan Gangguan Emosional dan Perilaku
Pengertian Gangguan Emosional
Menurt Howarddan Orlansky (1988), gangguan emosoional menunjuk pada adanya salah satu atau lebih dari karakteristik ketidakmampuan belajar mengendalikan emosi yang bukan atau tidak dapat dijelaskan berdasarkan faktor intelektual, sensoris dan kesehatan; ketidakmampuan menjalin hubunagn interpersonal denagn temanatau guru; perasaan yang tidak sesuai dengan anak-anak lain pada umumnya.suasana hati yang tidak bahagia atau perasaan tertekan: dan kecenderungan untuk mengembangkan gejala-gejala fisik atau rasa takut yang berkaitan dengan masalah-masalah personal atau sekolah.
Gangguan Perilaku
Definisi Gangguan Perilaku
Siswa yang tergolong memilki gangguan perilaku digambarkan dalam istilah penyimpangan dari norma-norma budaya yang beraneka ragam. Perilaku yang menyimpang adalah perilaku yang mempunayi suatu pengaruh yang merugikan penyesuaian dan perkembangannya, dan mengganggu kehidupan orang lain.
Faktor-faktor yang Menyebabkan Gangguan Emosional atau Perilaku
Gangguan perilaku disebabkan oleh faktor psikologis, psikososial, fisiologis, sosial, dan keluarga. Rata-rata anak yang memilki gangguan tingkah laku memiliki IQ di bawah normal dan pencapaian hasil belajar di sekolah lebih rendah daripada rata-rata dan banyak yang mengahadapi masalah belajar.
Siswa dengan Hambatan Sensoris
Jenis Hambatan
Ada dua jenis hambatan sensoris yang paling nyata menggangg proses belajar, yaitu gangguan penglihatan (tunanetra) dan gangguan pendengaran (tunarungu).
Tunanetra
Tunanetra dapat diartikan penglihatan yang tidak normal. Menurut WHO, masalah penlihatan dibagi menjadi dua, yaitu buta (blind) dan lemah penglihatan (low vision). Siswa yang buta, belajar membaca dan menulis denagn huruf braille, sedangkan siswa yang lemah penlihatannya dapat belajar membaca dan menulis dengan huruf-huruf yang dibesarkan ukurannya.
Tunarungu
Istilah gangguan pendengaran (hearing impaired) tidak terbatas pada individu-individu yang kehilangan pendenagaran berat, melainkan mencakup seluruh tingkat kersakan pendengaran. Orang dikatakan tulijika pendenagarannya rusak sampai pada satu saraf tertentu sehingga menghalangi pengertian terhadap suatu pembicaraan melalui indera pendengaran, baik tanpa maupun denagn alat bantu dengar.
Siswa dengan Problema pemusatan Perhatian
Kriteria diagnostik untuk anak ADHD (Attention-Dificit Hyperactivity Disorder) adalah:
Kurang perhatian, mencakup :
Sering gagal dalam menyelesaikan pekerjaan yang sudah dimulai.
Sering tampak tidak mendengarkan atau tidak memperhatikan
Mudah bingung atau terkecoh
Kesulitan untuk memusatkan perhatian pada tugas-tugas sekolah maupun lainnya.
Impulsif, mencakup :
Kesulitan untuk mengikuti suatu aktivitas permainan
Sering bertindak sebelum berpikir
Mengubah-ubah aktivitas dari yang satu ke yang lain
Memerlukan banyak pengawasan
Hiperaktivitas, mencakup :
Berlari-lari dan memanjat-manjat secara berlebihan
Gelisah secara berlebihan
Berjalan-jalan saat tidur
Sering mengembara tanpa tujuan
Terjadi sebelum usia 7 tahun
Durasinya paling sedikit 6 bulan
Siswa dengan Gangguan Memori
Siswa yang memilki gangguan memori tidak mau menggunakan berbagai cara untuk mengingat informasi yang sangat penting dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Berbagai cara untuk mengingat informasi antara lain adalah dengan cara memikirkan secara sunggh-sungguh informasi, mengucapkan informasi secara berulang-ulang, menuliskan informasi, memvisualisasikan informasi, menggaris bawahi informasi yang penting. Gangguan memori umumnya terikat erat dengan kemungkinan adanya disfungsi otak.
Siswa dengan Gangguan Komunikasi
Definisi komunikasi
Komunikasi manusia adalah suatu proses melalui mana individu dalam hubungannya, dalam kelompok, dalam organisasi dan dalam masyarakat menciptakan, mengirimkan dan menggunakan informasi untuk mengkoordinasikan lingkungan dan orang lain.
Fungsi Komunikasi
Dedy Mulyana (2001) mengemukakan emapat fungsi komunikasi, antara lain komunikasi sosial, komunikasi ekspresif, komunikasi ritual dan komunikasi instrumental.
Secara garis besar ada dua penyebab terjadinya gangguan komunikasi, yaitu internal dan eksternal. Penyebab internal terdiri dari 6 macam, yaitu gangguan pendengaran, tunagrahita, gangguan funsi saraf atau perifer, gangguan atau kerusakan artikulasi, gangguan sistem pernapasan, dan akibat autisme. Sedangkan faktor eksternal terdiri dari 3 macam, yaitu gangguan emosi, penggunaan dua bahasa dalam keluarga (bilingualism), dan lingkungan yang tidak menunjang perkembangan bicara anak.
Siswa yang Memiliki Masalah Kesehatan Kronis
Yang dimaksud dengan siswa yang memilki masalah kesehatan kronis ialah siswa yang menderita penyakit yang sulit disenbuhkan, sifatnya permanen, sementara, atau sebentar sakit sebentar lagi sembuh secara berulang-ulang. Siswa yang memilki masalah kesehatan kronis memerlukan perawatan kesehatan yang terus menerus, baik di rumah maupun di runah sakit. Jenis penyakit kronis, antara lain epilepsi, diabetis, cystic fibrosis, hemofilis, dan luka bakar.
Siswa yang Tergolong Cacat Berat atau Cacat Ganda
Siswa yang tergolong cacat berat ialah siswa yang karena kondisi fisik dan atau mentalnya sangat terganggu sehingga tidak mampu belajar bersama anak lain di sekolah reguler. Anak-anak yang tergolong cacat berat atau cacat ganda memerlukan layanan pendidikan di sekolah khusus, bahkan sering memerlukan perawatankhusus sepanjang kehidupannya.
BAB II
KONSEP PENDIDIKAN LUAR BIASA
Hakikat Pendidikan luar Biasa
Pendidikan luar biasa atau pendidikan khusus atau ortopedagogik dapat diartiakn sebagai pendidikan yang bersifat meluruskan, memperbaiki, menyembuhkan, atau menormalkan. Dalam perkembangannya, PLB tidak hanya dipandang sebagai pendidikan khusus yangdiperuntukkan bagi anak yang menyandang cacat,tetapi juga yang dikarunia keungglan (gifted & talented).
Tujuan dan Alasan Perlunya Layanan PLB
PLB bertujuan membantu peserta didik yang menyandang kelainan fisik atau mental, perilkai dan sosial agar mampu mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan sebagi pribadi maupun anggota nasyarakat dalam mengadakan hubngan timabal balik dengan lingkungan sosial, budaya dan alam sekitar serta dapat mengembangkan kemampuan dalam dunia kerja atau mengikuti pendidikan lanjutan serta memilki budi pekerti luhur.
Prevalensi Siswa yang Membutuhkan Layanan PLB
Prevalensi siswa yang membutuh kan layanan PLB sanagt diperlukan karena alasan-alasan berikut ini :
Alasan Perlunya Mengetahui Prevalensi Siswa yang Membutuhkan Layanan PLB
Keperluan Pembelajaran
Siswa yang membutuhkan layanan PLB memerlukan program-program pembelajaran khusus. Siswa yang tergolong tunanetra total memerlukan program pembelajaran khusus untuk mempertajm pendengaran dan perabaan, bina diri, membaca dan menulis Braille.
Keperluan Perencanaan Penyiapan Tenaga Kependidikan yang Relevan
Prevalensi siswa yang membutuhkan layanan PLB sangat diperlukan untuk menentukan jumlah dan jenis tenaga kependidikan yang harus dipersiapkan oleh LPTK (Lembaga Pendidikan Tenga Kependidikan).
Keperluan Perencanaan Penyediaan Prasarana dan Sarana Pendidikan
Penyediaan prasarana dan saranaPLB harus didasrkan atas data yang akurat tentang prevalensi siswa yang membutuhkan layanan PLB di suatu wilayah atau sekolah. Dengan data yang akurat, pemborosan dapat dicegah sehingga program pendidikan menjadi efisien.
Keperlaun Perencanaan Pembiayaan Pendidikan
Negara yang melaksanakan prinsip pendidikan untuk semua harus memiliki data prevalensi yang akurat tentang siswa yang membuthkan layanan PLB agar perencanaan pembiayaan pendidikan sesuai dengan kebutuhan.
Kendala Menentukan Prevalensi
Perbedaan Definisi
Tiap pakar di bidang PLB dan di bidang ilmu lainyang terkait dengan PLB sering memilki definisi yang berbeda untuk suatu jenis kelainan. Perbedaan definisi dapat menimblkan perbedaan angka prevalensi.
Perbedaan Instrumen Ukur
Instrumen ukur selalu didasarkan atas definisi dan kriteria tertentu. Karena adanya perbedaan definisi dan kriteria dari suatu jenis kelainan, maka besar kemungkinan instrumen ukur yang dikembangkan juga berbeda. Hal ini menimbulkan angka prevalensi berbeda-beda.
Kekeliruan Pengukuran
Kekeliruan pengukuran dapat terjadi karena adanya pengaruh dari berbagai faktor, yaitu orang yang melaksanakan pengukuran (tester), kondisi siswa yang sedang diukur, dan pengukuran yang berulang-ulang sehingga siswa menjadi hafal.
Kekhawatiran terhadap Penyalahgunaan Hasil Pengukuran
Semua tenaga kependidikan perlu berhati-hati dalam mengembangkan, melaksanakan, dan menggnakan hasil pengukuran. Meskipun anka prevalensi mengenai siswa yang membutuhkan layanan PLB sangat bermanfaat, penggunaanya harus dilakukan denggan cara yang hati-hati dan bijaksana.
Prevalensi
Meskipun angka prevalensi tidak sepenhnya dapat dipercaya karenaadanya berbagai kendala, angkatersebut sangat bermanfaat untulk perencanaan pendidikan, baik perencanaan yang bersifat makro, meso, maupun mikro.
Macam-Macam Bentuk Layanan PLB
Layanan PLB pada Jalur Pendidikan Sekolah
Ada dua jenis layanan PLB pada jalur pendidikan sekolah, yaitu sekolah di SLB dan di sekolah reguler. Layanan PLB di SLB terdiri dari empat jenjang, yaitu TKLB, SDLB, SMPLB, SMLB. Kelima jenis sekolah luar biasa tersebut adalah SLB A untuk tunanetra, SLB B untuk tunarungu, SLB C untuk tunagrahita, SLB D untuk tunadaksa, dan SLB E untuk tunalaras.
Layanan PLB pada Jalur Pendidikan Luar Sekolah
Anak-anak yang tidak dapat dapat dimasukkan kedalam seklah karena kecacatannya yang sangat berat ditempatkan di Day Care Centre, satu tempat untuk memberikan latihan kecakapan hidup sehari-hari. Bagi yang sudah tamat dari SLB tetapi tidak memperoleh pekerjaan dalam kehidupan masyarakat umumnya dimasukkan ke Shaltered Workshop, yaitu tempat kerja yang terlindung dari persaingan dunia luar.
BAB III
PERKEMBANGAN PENDIDIKAN LUAR BIASA
Perkembangan PLB hingga Menjadi disiplin Ilmu
Pada mulanya PLB hanya merupakan aplikasi dari teori-teori disiplin ilmu tertentu, terutama ilmu kedokteran dan psikologi. Dalam dunia kedokteran dan psikologi ditemukan banyak penyimpangan yang tidak dapat disembhkan melalui terapi medis maupun psikologis. Jalan yang ditempuh untuk memperbaikinya adalah melalui pendidikan sehingga dikenal dengan istilah terapi pendidikan ata terapi pendagogis atau terapi edukatif.
Perkembangan Layanan PLB
Pada saat ini konsep anak berkelainan telah mengalami perkembangan menjadi anak yang membutuhkan layanan pendidikan luar biasa. Ada 4 fase perkembangan pendidikan luar biasa, yaitu fase pengabaian, pemberian perlindungan, pemberian layanan pendidikan terpisah (segregatif). Dan pemberian layanan pendidikan integratf-inklusif.
Perkembangan LPTK PLB di Indonesia
Perkembangan LPTK PLB (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Pendidikan Luar Biasa) terkait erat dengan perkembangan penyelenggaraan pendidikan luarbiasa bagi anak-anak yang menyandang ketunaan. Dalam rangka menyongsong era pendidikan abad 21, Departemen Pendidikan Nasional telah mengembangkan Sistem Pendidikan Tenaga Kependidiakn (SPTK) yang bertujuan untuk :
Mengembangkan sistem pendidikan tenaga kependidikan baik jenis maupun program agar dapat menghasilkan tenaga kependidikan yang profesional.
Mengembangkan sistem kelembagaan dan manajerial pendidikan tenaga kependidikan untuk meningkatkan kinerja, efektivitas, dan efesiensi.
Membina dan mengakomodasi keragaman struktur kelembagaan LPTK secara fleksibel
Membina dan meningkatkan kerjasama yang sinergis antara LPTK, dengan sekolah dan lembaga keilmuan.
Kecenderunagn Baru dalam PLB
PLB adalah pendidikan yang ditujukan untuk kelompok populasi khusus, yang salah satu diantaranya adalah ALB. ALB mencakup anak-anak yang menyandang kecacatan tertentu (disable children) secara fisik, mental, dan emosional. Mereka adalah kelompok anak-anak yang mempunyai kebutuhan khusus dalam pendidikannya. Lynch (1993) memasukkan kelompok ini bukan hanya anak-anak yang memiliki kecacatan fisik atau mental tertentu, melainkan juga anak-anak biasa yang mengalamikesulitan belajar di sekolah atau krang telayani oleh sistem pendidikan.
BAB IV
KECENDERUNGAN PENDIDIKAN LUAR BIASA
Normalisasi
Adalah gerakan mainstreaming, yaitu penyediaan pola dan pola kehidupan sehari-hari bagi penyandang cacat sedekat mungkin dengan pola dan kondisi masyarakat umum. Dalam hal ini, perlu diciptakan situasi lingkungan sosial yang normal.
Integrasi
Bentuk-bentuk Pendidikan Terpadu (integrasi) di Indonesia.
Ada beberapa bentk keterpadan yang dapat ditemukan, yaitu :
Hanya oleh Guru Kelas Biasa (Regular Classroom Only)
Pada kelas ini, anakluar biasa yang ditempatkan pada kelas biasa adalah anak luar biasa yang termasuk paling ringan, sehingga tidak memerlukan layanan pendidikan khusus maupun guru pembimbing khusus.
Guru Kelas Biasa dan Guru Konsultan (Regular Classroom and Consultant Teacher)
Pelaksanaan keterpaduan ini dibantu guru konsultan yang berfungsi sebagau konsultan bagi guru kelas dalam memahami dan menangani masalah yang berkaitan dengan anak luar biasa serta memberikan saran kepada guru kelas mengenai metode pengajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak luar biasa.
Guru Kelas Biasa dan Guru Kunjung (Regular Classroom and Intinerent Teacher)
Yang menjadi guru kunjung adalah guru pembiming khusus yang mengunjungi sekolah atau kelas tersebut untuk memberiakn bantuan, sebagai guru konsultan bagi kelas/ bidang studi serta memberika layanan pendidikan khusus bagia anak luar biasa.
Kelas Biasa dengan Ruang Sumber (Regular Classroom and Resource Room)
Yang diaksud denagn ruang sumber adalahruangan khusus ayng menyediakan berbagai fasilitas untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi anak luar biasa sewaktu belajar di kelas biasa.
Kelas Khusus Part-Time (Part-Time Special Class)
Yang dimaksud kelas khusus adalah kelas yang berada di sekolah biasa yang khusus digunakan oleh anak luar biasa.
Kelas Khusus Tetap di Sekolah Biasa (Self Contained Special Class)
Disini, anak luar biasa berintegrasi pada waktu tertentu seperti pada waktu upacara, olahraga, karyawisata, dan lain-lain.
Kelebihan Sistem Pendidikan Integrasi
Bagi anak luar biasa ada perasaan persamaan haknya dengan anak normal, terutama dalam memperoleh pendidikan formal.
Anak luar biasa mendapat kesempatan ntuk bergaul lebih dekat dengan anak normal.
Dapat menumbuhkan motivasi belajar, karena bersaing denagn anak normal.
Bagi anak-anak normal dapat lebih mengenal siapa anak luar biasa, sehingga mereka terhindar dari anggapan yang salah tentang anak luar biasa.
Kelemahan Sistem Pendidikan Integrasi
Anak-anak luar biasa harus belajar denagn keras, karena harus menerima materi pelajaran melalui cara yang digunaknanak normal.
Beban kerja guru bertambah, karena harus memperhatikan anak luar biasa yang ada dikelasnya.
Mainstreaming
Pengertian Mainstreaming
Kata mainstreaming berasal dari kata mainstream, yang berarti masyarakat umum. Dalam pendidikan luar biasa, kata mainstreaming berarti menempatkan anak luar biasa di dalam kehidupan masyarakat umum atau di sekolah umum.
Faktor yang Mendorong Munculnya Mainstreaming
Faktor eksternal
Undang-ndang yang menjamin hak yang sama bagi setiap warga negara.
Faktor filosofi, ditandai denagn prinsip normalisasi yang beranggapan bawa setiap bentuk layanan pendidikan, perawatan, bimbinagn, rekreasi atau layanan lain bagi penyandang cacat harus menjamin peran sosial mereka dan disediakan dalam lingkunagan sehari-hari yang normal.
Faktor ekonomi dan politik, program-progran PLB telah berkembang pesat menjadi terlalu mahal. Proses pengembalian penghuni institusi ke masyarakat menghabiskan dana yang cukup besar, tetapi mereka masih mengalami berbagai hambatan. Hal inilah yang menimbulkan masalah ekonomi dan politik.
Pendanaan penelitian besar-besaran tentanf sekolah yangefektif danpembelajaran yang efektif.
Pembelaan para penyandang cacat dan keluarganya.
Faktor Internal
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa program pendidikan segregatif tidak membawa hasil yang positif, sehingga masih lebih menguntngkan apabila anak luar biasa masih tetap berada di kelas biasa bersama teman-temannya.
Proses Pembelajaran Mainstreaming
Pelaksanaan mainstreaming memerlukan modifikasi proses belajar mengajar di kelas biasa, antara lain pembelajaran secara lebih individual, kerjasama antara berbagai profesi, perubahan kondisi fisik kelas dan sekolah untuk membantu mobilitas semua anak luar biasa yang di integerasikan, penyediaan media pembelajaran khusus dan penyiapan psikis guru dan murid di sekolah biasa.
Inklusi (Inclusion)
Sekolah yang inklusif adalah sekolah yang menam[ung semua murid di kelas yang sama. Sekolah inklusif merpakan tempat bagi setiap anak dan tidak ada lagi istilah PLB, semua anak dapat diterima menjadi bagian dari kelas tersebut,dan saling membantu dengan guru dan teman sebaya maupun anggota masyarakat lain agar kebutuhan individualnya terpenuhi.
BAB V
PENDIDIKAN INKLUSIF
Pengertian Pendidikan Inklusif
Dalam konsep pendidikan inklusif pengkategorian siswa ke dalam kelompok normaldan berkelainan ditiadakan. Pendidikan inklusif memandang kebhinekaansebagai anugrah, yang memungkinkan manusia dapat saling berhubungan dalam rangka saling membutuhkan. Proses belajar tidak hanya terjadi antara guru denagn siswa tetapi juga denagn sesama siswa dan sumber belajar lainnya.
Landasan Pendidikan Inklusif
Landasan Filosofis
Dalam konteks penyelenggaraan pendidikan inklusif, manusia adalah makhluk bhineka yang mengemban misi tunggal sebagai khalifah Tuhan di muka bumi. Berdasarkan filosofi BhinekaTnggal Ika, kecacatan atau keunggulan tidak dapat dijadikan sebagai alasan untuk memisahkan peserta didik cacat atau unggul dari pergaulannya dengan peserta didik lainnya karena pergaulan antar mereka memungkinkan terjadinya saling belajar tentang perilaku dan pengalaman.
Landasan Religi
Di dalam Al-quran disebutkan bahwa hakikat manusia adalah makhuk yang satu sama lain berbeda untuk salingberhubungandan membutuhkan. Adanya siswa yang membutuhkan layanan pendidikan khusus adalah manifestasi dari hakikat manusia yang individual differences tersebut. Interaksi antar manusia harus dikaitkan dengan uapaya berbuat kebajikan.
Landasan Keilmuan
Pendidikan adalah ilmu terapan, sehingga meskipun iamerupakan ilmu yang berdiri sendiri, tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan ilmu-ilmu lain yang terkait. Oleh karena itu, jika terjadi kekeliruan dalam penyelenggaraan pendidikan, ilmuwan akan merujuk teori ilmu-ilmu murni yang mendasarinya dan ilmu terapan lain yang terkait.
Landasan Yuridis
Landasan yuridis memiliki hierarki dari undang-undang dasar, undang-undang, peratran pemerintah hinggaperaturan sekolah. Pendidikan bagi penyandang cacat sedapat mungkin diintegrasikan dengan pendidikan reguler. Pemisahan dalam bentuk segregatif hanya untuk keperluan pendidikan. Untuk keperluan pendidikan, anak-anak yang menyandang ketunaan maupun yang dikaruniai keunggulan harus dipergaulkan dengan anak-anak lain pada umumnya.
Elemen-Elemen Dasar Pendidikan Inklusif
Sikap Positif terhadap Keragaman
Elemen paling penting dalampenyelenggaraanpendidikan inklusif adalah sikap guru terhadap siswa yang membuthkan layanan PLB. Sikap guru tidak hanya berpengaruh terhadap setting kelas, tetapi juga dalam pemilihan strategi pembelajaran.
Interaksi Promotif
Penyelenggaraan pendidikan inklusif menuntut adanya interaksi promotif antar siswa, yaitu dengan adanya upaya untuk saling tolong-menolong dan saling mendorong atau memberi motivasi dalam belajar.
Kompetensi Akademik dan Sosial yang Seimbang
Pendidikan inklusif tidak hanya menekankan pada pencapaian tujuan pembelajaran dalam bentuk kompetensi akademik, tetapi juga kompetensi sosial. Oleh karena itu, perencanaan pembelajaran harus melibatkan tidak hanya pencapaian tujuan akademik, tetapi juga keterampilan bekerjasama.
Pembelajaran Adaptif
Pendidikan inklusif menuntut tersedianya program pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan individual siswa atau yang biasa disebut PPI (Program Pembelajaran Individual). Program pembelajaran individual merupakan program pembellajran adaptif untuk mempertemukan kebutuhan-kebutuhan khusus siswa yang diberikan siswa yang membutuhkan layanan PLB di kelas reguler.
Hidup dan Belajar Dalam Masyarakat
Dalam pendidikan inklusif kelas hars merpakan suatu bentuk mini dari kehidupan masyarakat yang diidealkan. Dan harus tercipta sasana belajar yang kooperatif sehingga di antara para siswa terjadi rasa saling tergantung dan saling menghargai.
Hubungan Kemitraan antara Sekolah, Keluarga, dan Masyarakat.
Suasana yang menyenangkan, akrab dan penuh kasih sayang memberi motivasi yang mendalam pada anak. Keluarga dan sekolah harus menjalin hubungan kemitraan yang erat dalam uapaya memperdayakan sewmua potensi kemanusiaan siswa agar dapat berkembang optimal dan terintegrasi.
Pemahaman Kebutuhan Individual Siswa
Semua tenaga kependidikan yang ada di sekolah hendaknya memahami kebutuhan individual siswa sehingga layanan pendidikan yang bersifat umum atau massal harus dibarengi dengan layanan yanmg sifatnya individual.
Belajar dan berpikir Independen
Dalam pendidikan inklusif guru mendorong agar siswa mencapai perkembangan kognitif taraf tinggi dan kreatif sehingga denagn demikian mampu berpikir independen. Guru perlu memiliki kemempuan untuk memberikan dorongan atau motivasi dengan menerapkan berbagi teknik terutama yang berkenan dengan teknik modifikasi perilaku atau manajemen perilaku.
Prinsip Belajar Sepanjang Hayat
Pendidikan inklusif memandang belajar di sekolah sebagai bagian dari perjalan panjang hidup seorang manusia dan manusia belajar sepanjang hayatnya. Oleh karena itu, pendidikan inklusif menekankan pada pengalaman belajar yang bermanfaat bagi kelangsunagn proses belajar siswa dalam kehidupan masyarakat.
Faktor Pendukung Tantangan dan Kendala
Filosofis
Pendidikan inklusif pada hakikatnya bukan merupakan suatu ide yang diimpor dari bangsa lain, tetapi berakar dari nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia sendiri. Berdasarkan landasan filosofis yang kokoh semacam itu, pendidikan inklusif seharusnya dapat tumbuh subur di Indonesia.
Religi
Konsep-konsep pendidikan inklusif yang terkait dengan ajaran dari berbagai agama besar di Indonesia dapat dijadikan landasan dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif.
Hasil Penelitian Ilmiah
Hasil penelitian Mulyono A. (2002)menunjukkan bahwa di kelas reguler terdapat anak-anak luar biasa yang seharusnya memperoleh layanan PLB tetapi tidak memperolehnya. Mengingat kelas reguler selalu terdiri dari anak-anak yang memiliki kemampuan yang heterogen maka di kelas semacam itu perlu diciptakan suasana belajar kooperatif.
Landasan Yuridis
Pendidikan inklusif sebagi terminologi yang baru, yaitu ketika UNESCO pada tahun 1994 menyelenggarakan konfrensi di Salamanca Spanyol yang menghasilkan keserpakatan :
Memberi hak kepada setiap anak untk mendapatkan pendidikan di sekolah, termasuk anak yang membutuhkan layanan pendidikan khusus, baik temporer maupun permanen.
Memberi hak kepada setiap anak untuk masuk sekolah yang berada di lingkungan komunitas mereka dalam kelas-kelas inklusif.
Dipercayai bahwa pendidikan inklusif pada gilirannya akan membentuk satu masyarakat yang inlusif.
Tantangan dan Kendala
Tantangan
Aktualisasi Landasan Filosofi dalam Pendidikan Inklusif
Kemampuan untuk mengaktualisasikan nilai-nilai filosofi Bhianeka Tunggal Ika bukan hanya menjadi tantangan bagi pengambil kebijakan dan penyelenggara pendidikan persekolahan tetapi menjadi tantangan bagi seluruh bangsa Indonesia.
Aktualisasi Nilai-Nilai Agama dalam Pendidikan Inklusif
Sistem pendidikan yang inklusifmasih merupakan tantangan untuk diwujudkan karena tidak semua orang mau berubah dari yang sudah biasa dilakukan ke yang sebaiknya dilakukan.
Implementasi Hasil-Hasil Penelitian yang Mendukung Pendidikan Inklusif
Kebanyakan penyelenggaraan pendidikan tidak didasarkan atas hasil-hasil penelitian yang akurat tetapi hanya didasarkan atas asumsi-asumsi yang kebenarannya belum teruji.
Kendala
Banyak anak luar Biasa yang tidak Dapat masuk Sekolah karena Tidak ada layanan PLB
Masih banyak anak luar biasa, terutama yang tergolong cacat, yang tidak bersekolah, dan seandainya mask sekolah reguler, mereka tidak memperolh layanan PLB, karena memang tidak ada guru yang kompeten untuk mengajar anak luar biasa.
Tidak Semua Orangtua Mengehendaki Anaknya yang Cacat Berada di Sekolah reguler
Sikap negatif dari guru, anak lain, dan orangtua anak normal dapat menimbulkan pengalaman tramatuk bagi orangtua anak cacat sehingga lebih menukai anaknya masuk SLB yang di dalamnya terkumpul anak-anak cacta dengan guru-guru yang secara khusus mempelajari PLB.
Banyak Sekolah Reguler yang Belun siap Memberikan Layanan PLB
Guru sekolah reguler umumnya tidak belajar PLB, dan sekolah reguler juga tidak dipersiapkan untuk menerima anak luar biasa yang tergolong cacat.
Tidak Semua Anak Luar Biasa dapat Dimasukkan ke Sekolah Inklusif
Anak luar biasa yang tergolong cacat berat atau sangat mengganggu tidak dapat dimasukkan ke sekolah inklusif meskipun di sekolah tersebut tersedia layanan PLB. Mereka terpaksa “bersekolah” di panti atau tempat yang lebih terlindungi.
Sistem Kenaikan kelas yang Belum Mendukung
Anak luar biasa akan abanyak yang tidak amapu mengikuti kurikulum reguler, meskipun guru secra terus-menerus memberikan layanan pengajaran remedial.
Aksebilitas yang Belum dipersiapkan
Ada dua jenis aksebilitas, yaitu aksebilitas fisik dan aksebilitas psikologis. Aksebilitas fisik berkenaan dengan kondisi fisik, prasaran dan sarana sekolahyang memungkinkan anakluar biasa masukl ke sekolah tersebut. Aksebilitas psikologis terkait dengan suasanabelajar dan suasan akekeluargaan yang tercipta oleh adanya interaksi antar siswa, antara siswa dengan guru, dan antara guru denagn orangtua.
Kekurangan Tenaga Profesional di Bidang PLB
Jumlah tenaga profesional di bidang PLB di Indonesia masih sangat terbatas. Di samping itu, juga ada kendala dana untuk mempekerjkan profesional PLB dan profesional lain yang terkait dengan PLB.
Penataan Cultural dan Kemasyarakan yang Belum Mendukung
Sikap, keyakinan, dan kultr dalam menerima dan memperlakukan anak-anak berkebutuhan khusus yang selama ini dianggap kurang menguntungkan akan merpakan salah satu kendala implementasi pendidikan inklusif.
Langkah-Langkah Menuju Pendidikan Inklusif
Kampanye Pendidikan Inklusif kepada khalayak
Diperlukan adanya gerakan penyadaran yang intensif melalui kampanye berbagai media dan tindakan nyata dalam penyelenggaraan pendidikan yang integratif-inklusif. Dengan cara ini sumber-sumber yang memadai dapat diperoleh. Perubahan dalam kebijakan skala prioritas tidak dapat efektif kalau tidak diikuti dengan penyediaan sumber-sumber yang dibutuhkan secara memadai.
Amandemen Perundang-Undangan
Berbagai perundang-ndangan, peraturan, dan kebijakan yang masih mendukung sistem penyelenggaraan pendidikan yang segregatif-inklusif perlu diamandemen atau diubah menjadi integratif-inklusif.
Perbaikan SPTK (Sistem Pendidikan Tenaga Kependidikan)
Lembaga pendidikan tenaga kependidikan yang berfungsi untuk menyiapkan tenaga kependidikan di sekolah reguler tidak dibekali pengetahuan dan ketrampilan dasr PLB meskipun da;lam realita banyak anak yang membutuhkan layanan PLB di sekolah reguler.
Mempersiapkan Aksesabilitas sekolah bagianak Luar Biasa
Ada dua macam aksesabilitas, yaitu aksesabilitas fisik dan aksesabilitas psikologis. Aksesabilitas fisik berkenaan dengan tersedianya prasarana dan sarana fisik seperti gedung, lapangan bermain, olahraga, dan berbagai peralatan belajar khusus yang memungkinkan bagi anak luar biasa unbtuk belajar di sekolah yang bersangkutan. Aksesabilitas psikologis berkenaan dengan suasana belajar, bekerja, dan bergaul yang memungkinkan anak luar biasa dapat diterima secara sosial oleh semua siswa, guru, dan orangtua.
Memberikan Layanan PLB bagi ALB yang Sudah ada di Sekolah
Guru perlu memiliki pengalaman sedikit demi sedikit, dari yang mudah ke yang sulit, dan dari yang sederhana ke yangkompleks. Mengingat adanya anak luar biasa di sekolah reguler maka pendidikan inklusif hendaklnya dimulai dari memberikan layanan PLB bagi anak-anak luar biasa yang ada di sekolah yang bersangkutan lebih dulu.
Menerima ALB Masuk sekolah reguler
Setelah guru memiliki pengalaman yang cukup dalam menangani anak-anak luar biasa yang sudah ada di sekolahnya, sekolah dapat memulai anak-anak luar biasa yang pada masa sebelumnya hanya bisa diterima di SLB.
Melaksanakan Penelitian Tindakan
Penelitan tindakan perlu dilakukan di sekolah yang bersangkutan untuk memantau terjadinyaperbahan ke arah terwjudnya sistem pendidikan inklusif yang lebih baik.
BAB VI
IMPILKASI PENDIDIKAN INKLUSIF TERHADAP PEMBELAJARAN
Pembelajaran Kontekstual
Pengertian Pemelajaran Kontekstual
Pembelajaran kontekstal adalah suatu proses pendidikan yang holistic dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan/keterampilan yang secara flleksibel dapat diterapkan dari satukonteks ke konteks lainnya.
Mengapa Pembelajaran Kontekstual?
Pembelajaran kontekstual diperlukanknkarena ada kecenderungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna apabila anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya.
Tujuan
Pembelajaran kontekstual bertujuan membekali siswa dengan pengetahuan yang secara fleksibel dapat diterapkan dari satu permasalahan ke permasalahan lain dari sat konteks ke konteks liannya.
Konsep
Pembelajaran konseptual merpakan suatu konsep yang didukung oleh berbagi penelitian aktual di dalam ilmu kognitif. Pembelajaran kontekstual antara lain : konstruktivisme berbasis pengetahuan, pembelajaran berbasis usaha, sosialisasi, pembelajaran situasi, dan pembelajaran distribusi.
Komponen Pendekatan Kontekstual di Kelas
Ada tujuh pendekatan kontekstual, antara lain :
Kontrukstivisme (Contructivism)
Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta, konsep atau kaidah yang siap untuk diambil atau diingat, tetapi perlu dikontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
Menemukan (Inquiry)
Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil dari mengingat seperangkat fakta-fakta melainkan hasil dari menemukan sendiri.
Bertanya (Questioning)
Bagi siswa kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inquiri, yaitu menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya.
Masyarakat Bela,jar (Learning Community)
Seseorang yang terlibat dalam kegiatan masyarakat belajar memberi informasi yang diperlukan oleh teman belajarnya.
Pemodelan (Modeling)
Dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang dapat ditiru. Model itu dapat berupa cara mengoperasikan sesuatu, cara melempar bola dalam olahraga, cara melafalkan bahasa iInggris, dan sebagainya.
Refleksi (Reflection)
Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang beru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di masa lalu. Refleksi merpakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima.
Penilaian yang Sebenernya
Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar dapat memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Pemebelajaran yang benar seharusnta ditekankan pada upaya membantu siswa agar mampu mempelajari, bukan ditekankan pada diperoleh sebanyak mungkin informasi di akhir periode pembelajaran.
Pembelajaran Koperatif
Mulyono Abdurrahman (1990,2003) menunjukkan bahwa suasana belajar koperatif lebih efektif daripada suasana belajar kompetitif jika kelompok siswa memiliki kemampuan yang heterogen. Sebaliknya suasana belajar kompetitif lebih kompetitif jika kelompok belajar terdiri dari siswa yang memiliki kemempuan homogen.
Pengertian Pembelajaran Koperatif
Pembelajaran kopertaif adalah pembelajaran yang secara sadra dan sistematis mengembangkan interaksi yang silih asah dan silih asih antar sesama siswa.
Perlunya Pembelajaran Koperatif
Menurut Bon dan vaughn (1994) ada lima kunci aspek pengajaran koperatif, yaitu :
Guru PLB dan guru reguler merencanakan denagn leluasa semua tujuan dan keinginan hasil belajar bagi anak biasa dan anak luar biasa di kelas.
Baik guru PLB maupun guru reguler memimpin selama peride pengajaran.
Ketika seorang guru menyajikan (menyediakan) pengajaran kepada kelompok sebagai suatu keseluruhan, sebagian besar waktu pengajaran melibatkan guru-guru bekerja dengan kelompok kecil atau siswa secara individual.
Semenjak siswa sering dikelompokkan secara heterogen, guru PLB bertugas atau bekerja dengan banyak siswa.
Pengajaran pelengkap dan aktivitas pengajaran merupakan bagian tak terpisahkan dari perencanaan dan pengajaran bersama.
Interaksi Koperatif dalam Kegiatan Pembelajaran
Pendidikan yang menekankan pada interaksi koperatif adalah pendidikan yang secara sunggug-sungguh berupaya mengaktualisasikan berbagai semboyan tersebut dalam sunia pendidikan.
Cara Menyelengarakan Pembelajaran Koperatif
Metode STAD
D engan metode STAD mengajarkan informasi akademik baru kepada siswa tiap minggu, baik melelui penyajian verbal maupun tertulis.
Metode Jigsaw
Melalui metode Jigsaw kelas dibagi menjadi beberapa tim yang anggotanya terdiri darin 5 atau 6 siswa dengan kararkteristik yang heterogen.
Metode GI ( group Investigation)
Metode ini menuntut berbagai norma dan struktr kelas yang lebih canggih bila dibandingkan dengan berbagai metode yang lebih berorientasi pada guru. Metode ini juga menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun untuk keterampilan proses kelompok.
Metode struktural
Metode struktural menekankan pada struktur-struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola-pola interaksi siswa. Metode ini menghendaki agar para siswa bekerjasama saling bergantung dalam kelompok-kelompok kecil koperatif.
Peran Guru dalam Pembelajran Koperatif
Merumuskan Tujuan Pembelajaran
Tujuan yang dicapai terkait dengan penguasaan materi pelajaran, sedangkan tujuan keterampilan kolaboratif terkait dengan upaya untuk menyiapkan siswa dalam kehidupan bersama di masyarakat.
Menentukan jumlah anggota dalam Kelompok Belajar
Faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan besarnya kelompok adalah kemampuan siswa, ketersediaan barang, dan keefektifan waktu
Menempatkan siswa dalam kelompok
Penempatan siswa dalam kelompok harus heterogen. Cara membentk kelompok yang heterogen dapat menggunakan teknik acak yang berstrata.
Menentukan tempat duduk
Siswa hendaknya ditempatkan dalam format segi empat, lingkaran atau setengah lingkaran.
Merancang bahan untuk meningkatkan saling ketergantungan positif.
Ada tiga macam cara, yaitu saling ketergantungan bahan, informasi, dan menghadapi lawan dari luar.
Menentukan peran siswa untuk menunjang saling ketergantungan positif
Menjelaskan tugas akademik
Menyusun akuntabilitas individual
Menyusun kerjasama antar kelompokj agar tercipta kerjasama denagn baik
Menjelaskan kriteria keberhasilan
Menjelaskan perilaku siswa yang diharapkan
Memantau perilaku siswa setelah semua kelompok mulai bekerja
Memberikan bantuan kepada siswa dalam menyelesaikan tugas
Melakukan intervensi untuk mengajarkan keterampilan bekerjasama
Menutup pelajaran
Pada saat pelajaran berakhir maka perlu ada ringkasan pokok-pokok pelajaran dan menjawab pertanyaan yang mungkin diajukan oleh guru.
Mengevaluasi
Pembelajaran Kompetitif yang Sehat
Dalam pembelajaran kompetitif yang sehat siswa satu sama lain sebagi saingannya. Tidak ada kebebasan dalam bergerak dan berbicara, hampir tidak diberikan kesempatan bagi guru untuk mengeluarkan ide atau pendapat untuk memecahkan masalah, siswa menggunakan ide sendiri, bahan ajar dipelajari secara individual.
Pendidikan Kecakapan Hidup
Pengertian
Tim Broad – Bused Education (2002) menfsirkan kecakapan hidup sebagai kecakapan yang dimiliki seseoirang untuk mau dan berani menghadapi probelema hidup dan kehidupan secara wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya.
Tujuan
Pendidikan kecakapan hidupbertujuan menyiapakan peserta didik agar yang bersangkutan mampu, sanggup, dan terampil menjaga kelangsungan hidup, dan perkembangannya.
Jenis Kecakapan hidup
Menurut TIM BBE Depdiknas 2002, jenis kecaka-pan hidup mencakup :
Kecakapan personal (personal skill) yang mencakup kevakapan mengenal diri (self awarness), dan kecakapan berpikir rasional (thinking skill)
Kecakapan sosial (social skill)
Kecakapan akademik (academik skill)
Kecakapan vokasinal (vocational skill)
Implikasi yang Diharapkan dari Kecakapan Hidup
Peserta didik memiliki aset kualitas batiniyah, sikap,dan perbuatan lahiriyah yang siap untuk menghadapi kehidupan masa depan.
Pesera didik memiliki wawasan luas tentang pengembangan karir dalam dunia kerja
Peserta didik memiliki tingkat kemandirian, keterbukaa, kerjasama, dan akuntabilitas yang diperlukan untuk menjaga kelangsungan hidup dan perkembangannya.
Life Skills dan Implikasi terhadap Kurikulum
Life skills menjembatani kesenjangan antara kurikulum yang ada dengan tuntutan kehidupan nyata yang ada saat ini, bukan untuk merombaknya. Kurikulum dikembangkan berdasarkan kompetensi kecakapan hidup yang telah dirumuskan berdasarkan kompetensi yang telah dikembangkan. Penyelenggaraan kecakapan hidup perlu dilaksanakn denagn jitu agar kurikulum berbasis kecakapan hidup dapat dilaksanakan secara sermat.
Keterlibatan Keluarga dan Masyarakat
Faktor dari Keluarga
Orang tua dapat menjadi mitra yang sangat berharga untuk membantu perkembangan anaknya. Keterlibatan orang tua dalam proses pembelajaran dapat membantu proses pembelajaran, membantu ketajaman kurikulum sehingga anak-anak mereka dapat mengalami kemajuan.
Faktor dari Masyarakat
Pendidikan inklusi melibatkan keterlibatan orangtua dan masyarakat baik dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Dalam penyusunan progran pengajaran individual sangat bergantung pada input dari oarngtua karena orangtua juga bekerjasama dalam membuat program dan perencanaan pendidikan.
Lingkungan Pembelajaran yang Inklusif dan Beragam
Dalam pendidikan inklusif, lingkungan belajar direncanakan dengan baik yaitu dengan memperhatikan semua perkembangan kebutuhan. Guru bertanggungjawab terhadap terciptanya suasana kelas yang beragam dan mengajarkan supaya murid sangat menghargai perbedaan.
Perencanaan Program Masa Transisi dari Pendidikan Luar Biasa ke Pendidikan Inklusif
Perencanaan program transisi harus dilakukan secara berkelanjutan dan terpadu demi suksesnya program, dan harus dimulai sejak awal masuknya anak kedalam program tersebut dan berkelanjutan sesuai kebutuhan anak untuk lingkungan barunya.
Gaya Belajar
Diri sendiri atau Mandiri
Pembelajaran inklusif juga berkaitan dengan kemampuan awal yang umumnya dilakukan secara rutin seperti penggunaan toilet, makan, bersih-bersih, dan berbagi pembelajaran untuk memenuhi tugas ini terkait erta pada situasi mendesak untuk kemandirian dan kompetensi anak.
Fasilitas Toilet
Hak yang perlu diperhatikan dalam belajar penggunaan toilet bagi anak adalah pertimbangan mengenai ukuran tinggi yang sesuai.
Wilayah Penempatan loker
Loker hendaknya terletak sedekat mungkin dengan pintu keluar dan kamar mandi. Lokasi ini membentu anak untuk menyimpan perlengkapan mereka sendiri.
Wilayah Tidur
Jika keberadaan ruang tidur terpisah tidak memungkinkan, maka ruang tersebut dapat diberi sekat yang rendah.
Lingkungan Luar Ruangan yang Aman
Keamanan dalam semua bentuk ruang kelas dan halaman bermain bagi anak prasekolah merupakan pertimbangan utama unutk dua alasan, yaitu mencegah kecelakaan yang dapat melukai anak dan membantunya untuk mandiri.
Kemampuan untuk Melihat
Kemampuan dalam melihat adalah suatu hal yang penting saat bekerja dengan anak-anak yang mempunyai masalah perkembangan yang selalu tidak mampu mengukur batasan yang mereka miliki.
Kemudahan untuk Bergerak
Anak-anak dan guru butuh untuk bergerak dengan bebas. Dalam hal ini perlu adanya bentuk batasan yang membagi tempat berdasarkan minat masing-masing anak.
a. Konsentrasi pada Kegiatan
Penekanan pada pandangan dalam kegiatan yang sesuai pada tiap wilayah adalah mutlak jika anak-anak akan belajar mengenai keterampilan dalam mengatur diri sendiri.
Lingkungan yang Terstruktur dan Pembelajaran Inklusi yang Akrab
Untuk mempertemukan jarak dari tahap perkembanagan anak yang ditemukan dalam sebuah kelompok anak-anak, lingkungan belajar haruslah terstruktur denagn baik dan pada saat yang sama harus dapat fleksibel dan dapat beradaptasi.
Penjadwalan
Dalam kelas inklusif, anak-anak dibiasakan untuk hidup disiplin dan teratur.
Hal Mendasar yang Terkait dengan Penjadwalan
Hal yang termasuk dalam penjadwalan adalah perbedaan individu antara anak-anak dan perubahn tingkat keterampilan sepanjang waktu.
Mengakomodasi Perbedaan Individu
Semua anak, baik normal maupun berkelainan berhak mendapat dukungan yang saman dalam memperoleh pendidikan.
Memberikan Peringatan dan Penguatan
Guru hendaknya memberikan peringatan, baik pada perubahan kegiatan lebih lanjut, beberapa menit sebelum peralihan, guru hendaknya memberikan nasihat.
Tidak Adanya Anak yang Berlabel Luar Biasa
Dalam pendidikan inklusif penggunaan label dan klasifikasi anak luar biasa ditiadakan dengan alasan penggunaan label pada anak luar biasa mengakibatkan sigma, stereotype, dan sikap curiga terhadap penyandang cacat, label menunjukkan kemalasan dalam membuat keputusan dalam pendidikan, label dapat berpengaruh negatif pada harga diri dan prestasi belajar anak luar biasa.
BAB VII
IMPLIKASI PENDIDIKAN INKLUSIF DALAM PENYELENGGARAAN LPTK
Tenaga Kependidikan dalam sistem Pendidikan Inklusif
Tenaga Kependidikan pada Jalur Pendidikan Sekolah
Dalam era pendidikan inklusif anak-anak luar biasa dapat bersekolah di sekolah reguler (SD, SMP, dan SMU) dan dapat pula bersekolah di SLB (SDLB, SLTPLB, dan SMLB). Semua tenaga kependidikan yang bekerja pada jalur pendidikan sekolah reguler perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar mengenai PLB, karena mereka akan berhadapan tidak hanya dengan anak-anak pada umumnya, tetapi juga dengan anak-anak luar biasa.
Tenaga Kependidikan pada Jalur Pendidkan Luar Sekolah
Jalur pendidikan luar sekolah mencakup pendidikan bagi anak prasekolah (usia 0-6 tahun), anak usia sekolah (6-18 tahun) tang tidak memperoleh kesempatan mengikuti pendidikan pada jalur sekolah (SD, SLTP, SMA atau SMK), orang dewasa, dan orang lanjut usia.
Ada bermacam-macam tenaga kependidikan PLB yang bekerja pada jalur pendidikan luar sekolah. Mereka ada yang bekerja di rumah sakit, di panti, dan ada pula yang memberikan layanan PLB di dalam keluarga.
Kompetensi Tanaga Kependidikan Luar Biasa
Tenaga kependidikan PLB tidak cukup hanya memiliki pengetahuan dan keterampilan dasra mengenai PLB, tetapi harus menguasai secara penuh. Tenaga kependidikan PLB tidak hanya harus mampu mengajar di SLB tetapi juga memberikan layanan PLB bagi anak-anak yang membutuhkan di sekolah reguler. Mengingat banyaknya jenis-jenis layanan PLB, disamping menguasai PLB secara umum untuk semua jenis kekhususan, seorang tenaga kependidikan PLB perlu mengasai salah satu atau beberapa bidang keahlian PLB. Berbagai bidang keahlian PLB, yaitu:
Guru braile untuk anak tunanetra
Guru OM (Orientasi dan Mobilitas) untuk anak tunanetra
Guru khusus untuk bina wicara bagi anak dengan gangguan komunikasi
Guru khusus untuk anak tunagrahita
Guru khusus untuk anak tunadaksa
Gur khusus untuk anak dengan gangguan emosi
Guru khusus anak berkesulitan belajar membaca, menulis, dan berhitug
Guru khusus untuk anak berbakat (gifted and talented)
Lulusan LPTK PLB diharapkan menguasai seperangkat kompetensi amg meliputi kompetensi utama di bidang PLB, kompetensi pendukung dan kompetensi lain yang bersifat khusus dan gayut dengan kompetensi utama. Semua jenis kompetensi tersebut harus memilki lima elemen yang meliputi, landasan kepribadian, penguasaan ilmu dan keterampilan, kemempuan berkarya, sikapdan perilaku berkarya, dan pemahaman kaidah hidup bermasyarakat profesional.
Pengembangan Kompetensi Guru dalam Menjawab Tantangan Pendidikan Inklusif
Kompetensi dan kecakapan baru yang diperlukan personel pendidikan berkenaan denagn pengetahuan keterampilan, sensitivitas dan sikap yang dibutuhkan olh tenaga-tenaga kependidikan yang memungkinkan mereka mengimplementasikan secara efektif dalam reformasi kurikulum mega trends. Hal tersebut harus dikaitkan dengan landasan pengetahuan yang filosofi, sosiologi, dan psikologi, dan dan basis critera kinerja dalam pelaksanaan pengajaran, asessman, keterampilan mendidik, dan sebagainya.
Reformasi dalam pendiidikan guru berkenaan denagn rekonstruksi macam apa yang dilakukan agar LPTK mampu memberikan kontribusi terhadap inovasi dan pengembangan pendidikan reformasi juga mencakup penelitian, inovasi, dan teknologi apa yang diperlukan.
Pendidikan untuk semua menunjuk pada perlunya materi pelajaran disesuaikan dengan kebutuhan siswa secara individual dan kebutuhan individual dan masyarakat tidak hanya yang berkenaan dengan kebutuhan jangka pendek tetapi juga kebutuhan jangka panjang, tidak hanya kebutuhan lokal tetapi juga nasional dan internasional.
Memaksimalkan potensi setiap anak secara penuh, terlepas dari status sosio ekonomi, mereka menunjuk pada perlunya mengidentifikasi dan mengakomodasi kebutuhan khusus dan kepentingan kelompok anak-anak yang berkekurangan, seperti siswa dari latar belakang keluarga dari berpenghasilan rendah, kelompok suku atau etnis minoritas, dan mereka yang tinggal di daerah terpencil.
Peran LPTK dalam Pengembangan Manajemen Kelembagaan
LPTK PLB mengantisipai kebutuhan tenaga kependidikan dan perkembangan ilmu ke-PLB an di masa mendatang, sehingga tenaga kependidikan PLB harus mampu memenuhi kebutuhan tenaga pengguna. Lembaga pengguna lulusan LPTK PLB dapat berbentuk lembaga persekolahan maupun non persekolahan.
Berdasarkan urgensi dan eksentensi keilmuan serta tuntutan di masa datang maka status kelembagaan LPTK PLB sekurang-kurangnya berada pada tingkat jurusan, strategi pengembangan manajemen kelembagaan dapat melalui pengembang sistem pengelolaan dan pemberdayaan sumber daya, pengembangan sistem informasi manajemen, pengembangan sistem perencanaan, monitoring,m evaluasi, dan pengendalian, serta program riset pengembangan kelembagaan.
Peran LPTK sebagai Lembaga Pengembang Ilmu dan Teknologi bidang Ilmu Pendidikan
Semua LPTK memiliki peran untuk melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Ketiga peran tersebut pada hakikatnya merupakan siklus pengembangan ilmu dan teknologi yang dimulai dari penelitian, penerapan hasil penelitian, dan berlanjut denagn perbaikan yang terus-menerus, baik dalam bentuk penyelenggaraan pendidikan bagi mahasiswa calon tenaga kependidikan maupun penerapannya dalam kehidupan di masyarakat.
Pengembangan ilmu dan teknologi PLB terkait denagn pengembangan kurikulum. Denagn prinsip otonomi, setiap LPTK PLB mempunyai otonomi untuk mengembangkan kurikulumnya,. Pengembangn kurikulum dilakukan denagn mengidentifikasi kompetensi yang diharapakan dari mahasiswa setelah mereka lulus.
Peran LPTK sebagai Penyelenggara Program Pendidiakn dalam pra Jabatan
Program prajabatan terdiri atas program sarjana, magister, dan program doktor. Dalam era pendidikan inklusif semua LPTK dituntut untuk menyelenggarakan program pendidikan pra jabatan bagi semua jenis tenaga kependidikan. Semua jenis tenaga kependidikan tersebut mencakup tenaga kependidikan pada jalur pendidikan sekolah maupun jalur pendidikan luar sekolah, memerlukan pengetahuan dan keterampilan dasar dalam bidang PLB.
Dalam sistem pendidikan inklusif sekolah dikelola secara khas yang sangat menekankan terciptanya suasan koperatif. Sikap koperatif yang dimiliki oleh semua tenaga kependidikan. Sikapini tidak hanya cukup diajarkan tetapi harus diaktualisasikan dalam kehidupan secara nyata bagi semua tenaga kependidikan.
Peran LPTK sebagai Penyelenggara Program Pendidikan dalam Jabatan
Program dalam jabatan menyelenggarakan program pelatihan non gelar dan pendidikan dengan gelar. Pelatihan non gelar / sertifikasi, bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme peserta dalam menjalankan tugasnya yang diselenggarakan dalam bentuk pelatihan jangka pendek dan pelatihan jangka panjang. Peserta yang telah menyelesaikan program ini diberikan sertifikasi yang menunjukkan kualifikasi jenis keahlian khusus bidang PLB yang telah diperolehnya selama pelatihan.
Dalam era pendidikan inklusif memerlukan pengetahuan dan keterampilan dasra dalam memberikan layanan PLB. Para tenaga kependidikan yang bertugas di sekolah-sekolah regulerperlu memperoleh pengetahuan dan keterampilan dasar pemberian layanan PLB. Lembaga yang dipandang paling kompeten untuk menyelenggarakan program pendidikan jabatan bagi tenaga kependidikan yang telah bekerja di sekolah-sekolah reguler adalah LPTK.
Peran LPTK dalam Penyelenggaraan LPTK secara Keseluruhan
Tidak semua LPTk memiliki jurusan atau program studi PLB. Pada hal pengetahuan dan keterampilan dasra PLB perlu dimiliki oleh semua lulusan LPTK dan semua dosen yang menyiapkan tenaga kependidikan. Dalam bidang PLB, inovasi seharusnya juga dimulai dari program studi PLB di perguruan tinggi, baik inovasi dalam pembelajaran untuk mahasiswa PLB maupun inovasidalam penanganan anak berkebutuhan khusus.
Dalam memasuki era pendidikan inklusif tenaga dosen PLB yang jumlahnya sangat terbatas harus dimanfaatkan seoptimal jungkin. Berbagia sumber belajar yang berkenaan denagn PLB perlu dikembangkan, khususnya dalam bentuk buku teks yang dapat digunakan oleh para dosen yang memiliki tgas penting dalam menyiapkan tenaga kependidikan dalam era pendidikam inklusif.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar